Cara Agar Tidak Tersesat Dalam Hutan : Telanjang


Saya adalah mahasiswa Kehutanan. Mencintai hutan berserta isinya adalah wajar bagi saya. Namun itu semua tidak dilalui dengan cara yang mudah. Pada awalnya saya sama seperti kaum individualis dan materialistis lainya, tak peduli dengan hutan apa lagi alam semesta ini. Sampai seketika saya tersesat dalam hutan.

Disuatu perjalanan pulang praktik lapangan dari Taman Nasional Way Kambas sesuatu terjadi kepada saya. Saya sedang merenung, saat itu saya duduk di bagian paling belakang bus yang memiliki posisi lebih tinggi dari kursi-kursi lainya. Semua rekan-rekan saya terlihat tertidur kelelahan, hanya ada beberapa orang yang masih terjaga, dan saya tidak tidur sama sekali. Saya pandangi mereka semua, mereka amat cinta dengan hutan, tidak seperti saya. Saya merasa ada yang salah dengan jalan hidup saya, ini adalah jalan yang salah, seharusnya saya tidak ada di tempat ini, kenapa saya tersesat dalam hutan? Ini bukanlah passion yang saya idamkan. Di titik itu saya mulai kecewa pada diri saya sendiri, kenapa saya bisa menerima dengan sadarnya kenyataan bahwa saya adalah mahasiswa kehutanan, sedangkan saya amat tidak peduli dengan hutan! 

Selama setengah semester akhir dan setengah semester lainya saya tersesat dalam hutan. Setiap tiga bulan sekali, saya harus praktek langsung ke hutan. Hal tersebut malah membuat saya trauma, sehingga saya sering merasa tidak nyaman ketika masuk ke hutan.
  
Lantas saya tidak mengerti dengan orang-orang yang “menyembah keindahan hutan”.  Mereka ada di sekitar saya namun saya baru menyadarinya mereka saat setengah semester telah berlalu. Zareva, Berasal dari kota dengan polusi tinggi dan jauh dari nuansa alam, Bekasi. Namun ia adalah salah satu rekan saya yang amat mencintai Hutan. Hampir semua gunung yang ada di Pulau Jawa sudah ia taklukan. Rasa cintanya pada alam-pun tidak tanggung-tanggung, acap kali ada seseorang yang berbuat buruk pada hutan, langsung saja ia sunguti. Lalu ada Rizaldi, seorang yang datang dari pusat kota Jakarta. Namun, langkah kakinya sudah pernah ia jejakan pada tiap jalan-jalan setapak yang ada pada plosok-plosok lembah dan puncak-puncak gunung di negri ini. Baginya, gunung sangat ia dambakan dan hutan sangat ia segani. Mengapa? Mengapa mereka sangat cinta dan peduli dengan  hutan? Apa yang sudah hutan perbuat pada mereka?

Pada awalnya, saya berfikir jika kepedulian mereka tentang hutan hanyalah masalah eksistensi belaka (terlepas dari fakta bahwa mereka adalah mahsiswa kehutanan). Mereka beraksi seolah melindungi hutan demi  mengejar citra diri yang baik di depan manusia. Mengorbankan waktu dan tenaga untuk jadi relawan hutan demi foto instagram. Pada saat tu saya mengnaggap mereka hanyalah berpose, mereka hanya berpose seolah menanam bibit pohon hutan, namun setelah foto di-upload, pohonya tak lagi jadi prioritas utama, namun seberapa banyak  like dan seberapa banyak komen pujian yang didapat. Mereka berpetulang ria menyembah indahnya alam semsta demi pengakuan, agar diakui sebagai petualang sejati yang keren dan jantan. Dari pemikiran ini, saya menjadi sedih kasihan, sedih karena hutan tak diperlakukan layak, hutan pun tak mau diperlakukan seperti itu, kan? Dengan ini, apakah artinya saya sudah peduli dengan hutan? Belum.

Karena saya jenuh dengan pikiran yang runyam ini, saya mencoba ide gila. Saat itu saya mencoba untuk mengenal apa itu hutan. Daripada terus-terusan berperang dangan ego, saya mencoba menerima diri saya sebagai mahasiswa kehutanan yang seharusnya mecintai alam. Saat itu saya diajak untuk naik salah satu Gunung yang ada di daerah saya, Gn. Betung yang berada di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Cukup nekat, karena saya sama sekali tidak memiliki kemampuan mendaki Gungung atau lainnya. 

Perjalanan di mulai, kami melewati hutan pohon karet milik warga sekitar. Saya sering melihatnya, jejeran pohon berbatang lurus dengan pola yang teratur dan setiap pohon memiliki mangkuk yang berisi tetesan getah karet yang siap dijual. Mata saya terbuka, saya baru menyadari, kalau ini adalah gugusan pohon hutan. Walau rapih, dan terkesan  tak alami, namun ini adalah hutan, yang dikatakan memiliki banyak fungsi dan memang benar.

Saya sudah merasakan apa itu hutan walaupan hanya setengah hari. Mulai naik ke atas gunung, saya melewati  deretan pohon-pohon rindang yang tumbuh subur di bawah naungan gunung yang menjulang ke atas awan. Sejuknya bukan main, angin yang berhembus terasa berbeda dikulit, lebih berat dan dingin seperti kala malam, namun saat itu masih siang hari. Karena  hari mulai gelap, kami memutuskan untuk membuat tenda Saya memprediksi malam ini akan menjadi malam yang nelangsa. Maksudnya, tidur beralaskan tikar dengan keadaan seadanya, tidak ada penghangat atau bantal yang empuk. Ternyata saya salah.

Hutan kala malam berikan harmoni yang indah. Entah bagaimana menuliskanya, sahut-sahutan serangga malam, nyaring , dan berirama. Ditambah efek suara desiran angin yang membelai-belai ranting dan daun-daun pepohonan yang bergericik “srek…srek…” membuat bulu kuduk merinding tapi bukan karena takut, namun karena hati ini tersentuh oleh dalamnya paduan suara hutan. Daun-daun terkena angin seolah bernyanyi, serangga-serangga mengiring dengan instrumen alami, saya yakin Beyonce atau Adele sekalipun tak mampu menandingi. Tak terasa saya sudah terlelap, padahal tak ada penghangat atau bantal yang empuk, namun saya tidur dengan sangat lelap.

Pagi hari saya kesiangan, kenapa saya bisa senyaman ini tidur di atas tanah lembab ini? Suhu saat pagi sangat luar biasa. Dingin, dingin sekali, entah bagaimana bisa sedingin ini. “nih,  kopi minum!” rekan saya memberikan saya segelas kopi yang terlihat biasa. Namun entah mengapa rasa kopi tersebut menjadi luar biasa! Bahkan seperti tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Kami melanjutkan perjalanan. Saat itu saya berjalan paling akhir, ada empat teman saya yang berjalan didepan. Kami tersesat! Niat hati ingin ke puncak malah kami memilih jalan yang salah, sehingga kami sampai di bagian hutan produksi masyarakat. Kami juga menemukan tumbuhan kopi di dalam hutan.  Agroforestri , itu yang mereka terapkan, saya  jadi kagum, ada kopi ditanam dekat dengan mahoni, dibesarkan disuatu tempat yang sama namun bisa padu dan berkembang dengan baik. Dan keduanya sama-sama bernilai ekonomis. 

Karena lelah mencari puncak akhirnya kami memutuskan untuk turun mencari air terjun. Jalur menuju air terjun menurun melewati batu-batuan besar yang licin. Lembah tersebut miring hampir 90 derajat dengan tanah lembab dan batuan yang berlumut, pepohonan rapat membentuk kanopi di sepanjang jalurnya. Saya berulang kali meminta kepada rekan-rekan saya untuk kembali pulang. Tapi yang mereka lakukan bukanya memboyong saya untuk pulang namun, mereka malah memberi bantuan ekstra saat saya kesulitan. Sehingga  saya menjadi tahu kalau mereka adalah orang yang baik, yang dapat diandalkan, dan sangat “tulus”. Sampai di dasar lembah, air terjun telihat begitu megah, debitnya sangat meruah. Ini yang disimpan hutan dengan sistem infiltrasi dan penyimpanan yang baik,  “aduh kenapa gue jadi kepikiran pelajaran kehutanan” dalam hati saya bergeming sambil takjub melihat indahnya pemandangan. 
Selesai dari air terjun saya kembali ke tenda. Setelah dicek ternyata kaki saya banyak dihinggapi pacet. Binatang kecil yang menghisapi darah! Ini adalah satu dari sekian juta alasan kenapa saya benci hutan. Tapi saat itu, saya senang bahkan bangga, entah mengapa.

Selepas dari  pendakian saya kembali termenung, kenapa perjalanan tanpa persiapan itu sangat berarti bagi saya. Sedangkan sebelumnya saya sering melakukan kunjungan ke hutan namun tak berarati apa-apa, bahkan membawa dampak yang negatif. Dan akhirnya saya menemukan jawabanya.
Pertama,  saya menyadari bahwa hutan ternyata memiliki banyak fungsi dan bukan hanya teori, fungsi secara subtansi, karena hutan memiliki nilai ekonomis yang pantas. Dari pohon karet yang membentuk formasi hutan hingga melimpahnya buah kopi yang diolah oleh masyarakat. 

Kedua,  lagi-lagi saya baru menyadari jika ternyata hutan itu ajaib dan saya  sudah membuktikanya. Suhunya berbeda dengan lingkungan sekitarnya, cuacanya memiliki ciri  yang berbeda, anginya berhembus dengan muatann dan prinsip yang berbeda, hingga dapat menciptakan iklim mikro yang jarang disadari oleh kebanykan orang. Dan yang paling magis adalah “malam-nya” yang tidak bisa dijelaskan. Paginya pun sangat ajaib, kopi yang biasa saya minum, memiliki rasa yang berbeda, kenapa? Karena saya meminumnya dengan hasrat. Hutan kala itu telah menyihir krangka pikir ini.

Ketiga, ini yang terpenting. Kenapa saya tidak pernah merasa setakjub ini sebelumnya adalah karena perjalanan ke hutan kali ini berbeda dengan kunjungan  praktikum ke hutan sepert biasanya. Hal tersebut karena kali ini saya melakukan perjalanan dengan “telanjang”. Perjalanan ini didorong oleh rasa ingin tahu dan kepala yang terbuka selebar-lebarnya, siap menerima apa saja yang ditangkap mata, didengar telinga, dan di rasa oleh kulit. Tidak ada rasa munafik. 

Lantas pikiran saya berubah, mengenai orang-orang yang melakukan aksi-aksi heroik terhadap hutan, yang saya kira dahulu adalah aksi sandiwara. Zareva rekan saya yang berasal dari Bekasi, sangat kesal jika ada yang merusak hutan, karena ia tahu alam ini indah! Beliau suka berpetualang dalam hutan, karenannya beliau paham bagaimana cara memperlakukan hutan dan beliau sadar jika hutan harus dilindungi untuk mengawetkan keindahan alamnya demi generasi setelah kita.  Rizaldi, pendaki gungung asal kota metropolitan Jakarta, memiliki impian untuk terus melangkahkan kakinya di alam ini. Karena ia sadar, banyak keindahan alam yang tak sempat ia nikmati jika hanya diam di tempat. Mereka sangat peduli dengan alam beserta hutanya, Karena mereka telah masuk dalam hutan sebelum saya. Dan ketika saya benar-benar masuk dan  tersesat dalam hutan, akhirnya saya paham apa yang mereka perjuangkan.

Mungkin hutan jengah  kepada saya,  yang ragu dengan fungsi dan kedikdayaanya dalam kehidupan ini. Jujur, walupun setiap hari saya belajar mengenai fungsi-fungsi hutan saya hanya paham teorinya dan tak mengihlami makna dan implementasinya, hingga akhirnya saya mengenal hutan sedalam ini.

Hanya dengan melakukan satu kali perjalanan ke hutan, saya mendapat sejuta cerita dari hutan yang bukan hanya tak terlupakan, tapi mampu mengkoyak, mencabik, dan memporak-porandakan konsep pemikiran diri ini. Yang dulunya tertutup rapat, menjadi terbuka selebar langit. “kalau kita masuk hutan dengan  pikiran terbuka, maka hutan akan membuka keindahnaya kepada kita” itu yang saya simpulkan. 

Karena sejatinya manusia bukanlah penguasa alam semesta, tapi bagian dari alam semesta tersebut. Maka untuk memahaminya, kita harus menjadi semesta alam ini.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 komentar:

Posting Komentar